Seni Kreatif

20 Maret 2013

Merindukan Pemimpin yang Berkarakter



Pemimpin yang bijak bestari mampu melayani kebutuhan rakyaktnya dengan adil, sekaligus disegani lawan. Itulah pemimpin yang dibutuhkan Indonesia. Sayang, mereka hanya lahir di saat era kolonial. Usai reformasi, Indonesia belum melahirkan pemimpin yang berkarakter, mengapa?

Tatkala malam yang pekat, seperti biasanya Khalifah Umar bin Khattab (581 – 644) berkeliling kota. Tanpa pengawalan dan memakai baju sederhana, membuat sang pemimpin penakluk Persia dan Roma ini seperti masyarakat kebanyakan. Dia bisa leluasa melihat secara langsung kebutuhan rakyatnya, juga apa yang masih kurang dari rakyatnya, lalu dibenahi segera.

Beliau bertemu dengan seorang ibu dengan anak-anak yang sedang menangis, mengitari tungku dengan api yang malas berkobar. “Wahai ibu ada apa dengan anak-anakmu yang menangis itu,” tanya sang amirul mukminin.
“Mereka kelaparan, aku memasak batu agar bisa mengatakan makanan belum masak, hingga mereka bisa tertidur karena menunggu,” kata si ibu.
“Lalu apa yang dilakukan amirul mukminin dengan rakyat seperti ibu,” lanjut Umar.
“Mana mungkin amirul mukminin mengurus rakyat jelata seperti saya.”
“Kalau begitu Ibu, tunggullah!” Kata Umar

Tidak ragu Umar bergegas menuju gudang penyimpanan makanan. Dia mengangkut sendiri sekarung gandum, memberikannya langsung kepada si ibu. Sampai si ibu itu tersadar dengan siapa dia berurusan. Umar tak marah dikritik, justru dengan begitu dia tahu masalah apa yang menimpa rakyatnya. Begitulah pemimpin berkelas.

Umar juga pemimpin yang berkarakter, menghormati musuhnya. Lain waktu di tahun 637, setelah pengepungan yang lama terhadap Yerusalem, pasukan Islam akhirnya mengambil alih kota tersebut. Umar diberikan kunci untuk memasuki kota oleh pendeta Sophronius dan diundang untuk salat di dalam gereja (Church of the Holy Sepulchre).

Umar melakukan banyak reformasi secara administratif dan mengontrol dari dekat kebijakan publik, termasuk membangun sistem administratif untuk daerah yang baru ditaklukkan. Ia juga memerintahkan diselenggarakannya sensus di seluruh wilayah kekuasaan Islam. Tahun 638, ia memerintahkan untuk memperluas dan merenovasi Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Medinah. Ia juga memulai proses kodifikasi hukum Islam. Umar dikenal dari gaya hidupnya yang sederhana, alih-alih mengadopsi gaya hidup dan penampilan para penguasa di zaman itu, ia tetap hidup sangat sederhana.
Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, kiranya yang mau mengambil teladan dari kepimimpinan Khalifah Umar. Kalau benar, semoga di seluruh negeri ini lahir pemimpin-pemimpin baru yang mau meneladani kepemimpinan Rasulallah, Khalifah, dan Tokoh-tokoh lain yang berkarakter.

Pada setiap zaman Indonesia bisa melahirkan pemimpin yang hebat. Kalau saat ini Indonesia masuk kategori negara gagal, bukannya negara ini tak pernah memiliki pemimpin yang bagus. “Lihatlah Syahrir, Hatta, Tjokroaminoto, merekalah pemimpin yang berkarakter namun tetap menunjukkan kualitas keimanan Islam yang kuat,” ujar Yudi Latif, Direktur Reform Institute dalam satu diskusi kepemimpinan bangsa.

Mereka memiliki karakter Islam yang kuat, keras dan tegas namun memiliki kasih sayang yang luar biasa. Tjokroaminoto yang lulus STOVIA hanya bertahan sebulan menjadi pegawai Belanda di Madiun. Kerjanya tiap pagi memberi laporan kepada Bupati Madiun dengan duduk bersimpuh, “Seorang muslim tak menyembah sesama manusia,” begitu tekadnya. Dia keluar sebagai pegawai, sibuk berdagang, lalu memimpin Sarekat Islam.

Demikian pula Hatta, selalu menjadi panutan baik saat di Bukit Tinggi, di Batavia, bahkan saat belajar di Belanda. Dia dijadikan bendahara. Di tangannya keuangan organisasi surplus, karena Hatta tak meminum alcohol sambil melobi. Meski bicara soal Marxisme Sosialisme saat diskusi, dia selalu sholat ketika waktunya tiba. Itulah sosok pemimpin Indonesia masa lalu.

Pemimpin Bangsa yang Ideal

Lantas bagaimana menemukan pemimpin yang ideal? ? Kebesaran, kebaikan, kekuatan, kesalehan itu suatu kualitas. Sebagai umumnya kualitas, ia hanya dapat dikenali lewat pengalaman. “Dan, pengalaman baru ada bila ada pertemuan dengan peristiwa. Jadi, orang kuat itu kini sudah harus menunjukkan kualitas kuatnya, meski dalam ruang terbatas,” kata budayawan Jacob Soemardjo.

Ayal ada orang kuat yang deus ex machina alias turun dari langit. Orang kuat itu nyata, berdarah daging, kesesakan seperti sesak napas bangsa sekarang ini. Ia ada di antara kita. Ia dialami dalam lingkungan terbatasnya. Tetapi, ia jarum di setumpuk jerami.

Dia menegaskan rakyat tidak menginginkan pemimpin yang arogan, hanya peduli pada golongan sendiri, pemimpin egoistik, punya telinga bukan untuk mendengar, punya mata bukan untuk melihat, kecuali golongan sendiri, kelompok sendiri, daerah sendiri, konco-konco usahanya sendiri. Pemimpin yang mabuk kuasa. Pemimpin mumpung. Pemimpin yang takut kehilangan kursi.

Seorang filusuf besar Cina, Lao Tsu, ditanya oleh muridnya tentang siapakah pemimpin yang sejati, maka dia menjawab: Pemimpin terbaik, adalah orang yang tak melihat keberadaannya, namun orang selalu menghormati dan mendoakannya. Terkadang dia membuat orang ketakutan juga selanjutnya membencinya. Ketika dia memimpin suatu pekerjaan dengan baik, orang-orang berkata, “Ini semua keberhasilan bersama”.

Pemimpin sejati adalah seorang pemberi semangat (encourager), motivator, inspirator, dan maximizer. Konsep pemikiran seperti ini adalah sesuatu yang baru dan mungkin tidak bisa diterima oleh para pemimpin konvensional yang justru mengharapkan penghormatan dan pujian (honor and praise) dari rakyatnya. Semakin dipuji bahkan dikultuskan, semakin tinggi hati dan lupa dirilah seorang pemimpin. Justru kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan yang didasarkan pada kerendahan hati (humble).



Merindukan Figur Pemimpin yang Berkarakter
Oleh : Ari Sriyanto, S.Pd.I
Guru PAI SMA Negeri 4 Pangkalpinang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar